Kamis, 17 September 2026

Apa yang Harus Diucapkan Orangtua Saat Menghadapi Anak Tantrum?

 


Menghadapi anak yang sedang tantrum bisa menjadi momen yang melelahkan bagi orangtua. Tangisan, teriakan, atau keinginan anak yang sulit dipenuhi sering kali muncul ketika orangtua sendiri sedang sibuk atau kehabisan energi.

Dalam situasi seperti ini, orangtua mungkin spontan meminta anak untuk berhenti menangis atau segera tenang. Padahal, ketika emosi sedang memuncak, anak belum tentu siap menerima nasihat panjang atau penjelasan yang rumit.

Respons orangtua pada momen tersebut tetap penting. Ada cara berkomunikasi yang dapat membantu anak memahami apa yang sedang dirasakannya, sekaligus membuat batasan tetap berjalan. 

5 Kalimat yang Bisa Diucapkan Saat Anak Tantrum :

1. “Aku Tahu Kamu Kesal”
     Ketika anak sedang sangat marah atau kesal, orangtua dapat memulainya dengan mengakui perasaan yang sedang dialami anak. Melansir Parade, Psikolog Dr Amy Kincaid Todey, PhD, menyarankan orangtua menggunakan kalimat sederhana seperti, “Aku tahu kamu kesal.” Mengakui perasaan anak bukan berarti orangtua menyetujui perilaku yang dilakukan anak. Orangtua hanya menunjukkan bahwa mereka memahami apa yang sedang dirasakan anak.

2. “Aku Tahu Kamu Kecewa, tapi Jawabannya Tetap Tidak”
     Ada kalanya tantrum muncul karena anak menginginkan sesuatu yang tidak dapat diberikan orangtua. Dalam situasi seperti ini, orangtua tetap bisa mengakui perasaan anak sambil mempertahankan aturan.
Misalnya dengan mengatakan, “Aku tahu kamu kecewa, tapi jawabannya tetap tidak.”
Artinya, orangtua dapat menunjukkan bahwa mereka memahami kekecewaan anak tanpa mengubah keputusan yang sudah dibuat.

3. “Sepertinya Kamu Merasa Malu?”
     Tidak semua anak bisa langsung menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Ketika anak kesulitan menemukan kata yang tepat untuk emosinya, orangtua dapat membantunya dengan memberikan pilihan.
Tidak semua anak bisa langsung menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Ketika anak kesulitan menemukan kata yang tepat untuk emosinya, orangtua dapat membantunya dengan memberikan pilihan.
Orangtua kemudian dapat berhenti berbicara dan memberi kesempatan kepada anak untuk merespons. Jika anak merasa emosinya berbeda dari yang disebutkan orangtua, hal tersebut tetap dapat menjadi kesempatan untuk membantunya mengenali perasaannya. 

4. “Kamu Ingin Melakukan Apa dengan Perasaan Itu?”
    Pembicaraan mengenai emosi tidak harus dilakukan ketika anak masih berada di puncak tantrum. Setelah anak mulai lebih tenang, orangtua dapat mengajaknya membicarakan apa yang baru saja terjadi.

Salah satu pertanyaan yang bisa digunakan adalah, “Kamu ingin melakukan apa dengan perasaan itu?”
Todey menjelaskan, mengenali emosi dan kemudian menentukan bagaimana meresponsnya merupakan bagian dari regulasi emosi.
Jadi, percakapan setelah tantrum bukan hanya tentang membuat anak berhenti menangis. Orangtua juga dapat membantu anak memahami emosinya dan memikirkan apa yang bisa dilakukan setelah merasakan emosi tersebut.

5. “Kita Akan Bicara ketika Sudah Lebih Tenang”
     Tantrum anak terkadang membuat orangtua ikut terpancing. Dalam kondisi seperti ini, orangtua tidak harus memaksakan diri untuk selalu tenang, tetapi dapat berusaha menjaga responsnya tetap lebih tenang daripada anak.
Orangtua tetap dapat menetapkan batasan dengan menegaskan bahwa cara bicara tersebut tidak diperbolehkan dan mengajak anak berbicara setelah lebih tenang. 

Sumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2026/09/16/172336020/apa-yang-harus-diucapkan-orangtua-saat-menghadapi-anak-tantrum?page=2







Tidak ada komentar: