Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) menyusun acuan pengembangan kompetensi digital ASN dan penguatan budaya digital yang selaras dengan kebutuhan organisasi serta transformasi digital pemerintah. Untuk menyempurnakan kebijakan tersebut, Kementerian PANRB menggelar uji publik Rancangan Peraturan Menteri PANRB tentang Kompetensi Digital ASN dan Budaya Digital di Lingkungan Instansi Pemerintah di Auditorium Balai Kota Bandung, Selasa (3/11/2026).
Staf Ahli Bidang Politik dan Hukum Kementerian PANRB Tri Atmojo Sejati menyampaikan bahwa uji publik menjadi ruang untuk memperoleh masukan substantif dari berbagai pemangku kepentingan sebelum rancangan peraturan ditetapkan. Keterlibatan instansi pemerintah diperlukan agar kebijakan yang dihasilkan dapat dipahami dan diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kami akan lebih banyak mendengarkan masukan. Setelah itu, kami akan mencoba mengkaji bagaimana penyesuaian peraturan ini,” ujar Tri Sejati.
Menurutnya, pelibatan pemangku kepentingan merupakan bagian dari upaya menghadirkan partisipasi publik yang bermakna. Peserta juga memperoleh akses terhadap rancangan peraturan secara utuh sehingga dapat mencermati substansi yang nantinya akan diterapkan.
“Semakin banyak pihak yang membaca rancangan ini, semakin besar peluang kita menghasilkan aturan yang implementatif dan dapat dipahami sejak awal,” tegasnya.
Ia menjelaskan, rancangan tersebut merupakan tindak lanjut arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Kebijakan ini tidak dimaksudkan sebagai standar kompetensi jabatan, melainkan menjadi acuan kemampuan digital yang perlu dimiliki ASN berdasarkan kategori jabatan dan karakteristik tugas.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnain menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Bandung telah melaksanakan uji kompetensi digital bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) terhadap lebih dari 2.311 ASN. Hasil pengukuran tersebut dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kapasitas aparatur sekaligus kebutuhan pengembangan kompetensinya.
“Hasilnya menjadi modal awal untuk mengenali kapasitas aparatur, memetakan kesenjangan kompetensi, dan menyusun pengembangan sumber daya manusia secara lebih terarah,” ungkap Iskandar.
Iskandar menambahkan, Pemerintah Kota Bandung juga telah mengembangkan Bandung Learning Center dan Assessment Center untuk meningkatkan kapasitas aparatur. Penguasaan teknologi, menurutnya, perlu disertai kemampuan mengolah data, menjaga keamanan informasi, serta menghadirkan inovasi dalam pelayanan publik.
“Masyarakat tidak menilai pemerintah dari seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi dari pelayanan yang mudah, cepat, dan pasti. Di sinilah ukuran keberhasilan transformasi digital,” tegas Iskandar.

Dalam sesi paparan, Asisten Deputi Manajemen Transformasi Digital Pemerintah Kementerian PANRB Fahmi Alusi menjelaskan bahwa kerangka kompetensi digital ASN mencakup tiga kemampuan utama, yakni literasi digital, keahlian digital, dan kepemimpinan digital. Pengembangannya dilakukan berdasarkan pemetaan kebutuhan, pembelajaran berkelanjutan, serta pengukuran melalui asesmen dan pengakuan hasil pembelajaran.
Selain kompetensi individu, rancangan kebijakan juga memuat penguatan budaya digital dalam empat dimensi, yaitu pelayanan digital, tata kelola digital, pembelajaran dan adaptasi digital, serta kolaborasi dan inovasi digital. Kerangka tersebut menjadi panduan bagi instansi pemerintah dalam membangun budaya kerja digital yang adaptif.
Masukan dari perwakilan instansi pusat dan daerah dalam uji publik ini akan menjadi bahan penyempurnaan rancangan peraturan. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengarahkan pengembangan kompetensi digital ASN dan budaya digital di lingkungan instansi pemerintah agar selaras dengan kebutuhan organisasi dan perkembangan teknologi. (jne/HUMAS MENPANRB)
Sumber : https://www.menpan.go.id/
















