Awal mula sejarah kabupaten Garut berawal dari kabupaten Limbangan, yang dirubah menjadi kabupaten Garut yang ibu kotanya terletak di Suci pada tahun 1811 oleh Daendles. Dengan alasan bahwasanya pada akhir – akhir sebelum dipindahkan produksi kopi yang ada di Limbangan menurun drastis hingga titik paling rendah, dan bupati menolak menanam bila (indigo)(Toha, 2020).
Akhir masa hampa kabupaten di Limbangan dan sekitarnya dengan dibentuknya Afdeling baru oleh Letnan Jendral Raffles pada tahun 1813 merupakan awal sejarah kabupatin atau kabupaten Garut (Nisa & C. Arief Gumbira, 2015).
Sebelum Garut ini menjadi kota yang asari yang makmur, dulu pada saat tentara Jepang menjajah Indonesia, Garut ini dikuasai oleh tentara Jepang secara penuh, penduduk tentara Jepang membubarkan sekolah-sekolah yang ada di kota Garut, yang merupakan warisan dari Belanda. Pada tahun 1942 sekolah baru bisa dibuka lagi dengan julukan Sekolah Rakyat, lama sekolah tersebut sama seperti sekolah dasar yaitu enam tahun, sama juga seperti pada saat penjajahan Belanda. Dan pada tahun 1942 juga dibuka sekolah tingkat pertama, semua sekolah dasar itu derajat nya sama tidak disbandingbandingkan atau diskriminasi, dengan adanya penghapusan diskriminasi ini sangat bermanfaat sekali, semua masyarakat bisa merasakan sekolah tanpa adanya status social (Sofianto, 2014).
Bahwasanya telah diterangkan berhubungan dengan dibentuknya Afdeling baru yang dinamakan Afdeling Limbangan, kewajiban Raffles harus membentuk kabupaten – kabupaten baru, yaitu Limbangan dan Sukapura untuk meningkatkan kelancaran daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah di daerah. Pembentukan dua kabupaten baru tersebut harus terlebih dahulu membubarkan salah satu kabupaten yaitu kabupaten Parakan muncang. Tindakan “Hersteilen” (memperbaiki atau pembentukan kembali) penghapusan kabupaten Limbangan dan Sukapura yang dilakukan oleh GG Daendels dan menimbulkan kesulitan dan hambatan dalam penyelenggaraan pemerintahan, adalah langkah pertama yang diambil oleh Raffles dalam rangka reorganisasi dan hervorming (Nisa & C. Arief Gumbira, 2015).
Meskipun nama-nama kabupaten yang baru dibentuk itu sama dengan kabupaten yang telah dihapuskan, yaitu Limbangan dan Sukapura namun dua kabupaten tersebut adalah berlainan dalam pengertian bahwa secara yuridis formal bukan atau tidak merupakan kelanjutan kabupaten lama. Orang yang membentuk luas wilayahnya, bupati maupun alasan, landasan, maksud dan tujuan bahkan ibu kotanya adalah berbeda. Secara yuridis formal dan “staatkunding” (tata negara, tata pemerintahan, atau lebih tepat dan terbatas lagi tata pemerintah di daerah) maka pembentukan kabupaten Limbangan dan Sukapura itu merupakan pembentukan kabupaten baru dan penghapusan kabupaten lama merupakan akhir kabupaten tersebut. Banyak perubahan dan segala sesuatu hamper baru, yang masih sama atau tidak berubah sama sekali hanyalah nama kabupaten saja, mungkin dikarenakan nama tersebut sudah dikenal di kalangan pemerintah atau pengguna nama yang sama itu sekedar untuk mempermudah, karna kalau merubah nama akan menimbulkan kesulitan bagi pemerintah atau masyarakat untuk mengenalnya.
Wilayah kabupaten Limbangan yang beribukota di Garut yang mana didalam naskah ini disebutkan secara singkat sebagai kabupaten Limbangan – Garut, terdiri dari distrik-distrik: 1. Wanakerta 2. Wanaraja, 3. Suci dan 4. Panembong. Distrik Wanakerta dan Wanaraja berasal dari kabuten Limbangan lama, sedangkan distrik Suci dan Panembong berasal dari kabupaten Sukapura lama. Yang sangat menarik hati bahwa distrik Limbangan dimasukan, dengan demikian kabupaten baru Limbangan - Garut adalah kabupaten Limbangan tanpa Limbangan.
Seperti telah diterangkan, bupati pertama kabupaten Limbangan – Garut ialah Tumenggung Adiwijaya, putra sulung pangeran Surya Nagara alias Pangeran Kusumadinata yang lebih terkenal dengan sebutan Pangeran Kornel jiak demikian kepindahan Tumenggung Adiwijaya dari kabupaten Parakanmuncang ke kabupaten baru Limbangan – Garut bisa diartikan sebagai kembalinya kedudukan kebupatian keturunan Limbangan seperti diketahui, menurut garis keturunan laki-laki yang secara adat bisa dipergunakan, para putra, cucu dan cicit Raden Surianagara adalah turunan Tumenggung Wangsadita (1). Tumenggung Wangsadita (1) bupati Limbangan, berputera sulung Raden Surianagara, yang berputera Adipati Kusumadinata, yang berputera Pangeran Surianagara alias Pangeran Kusumadinata, yang terkebal sebagai Pangeran Kornel. Putera sulung pangeran Kornel adalah Tumengung Adiwijaya dengan kata lain, jika Tumenggung Adiwijaya memakai gelar – “Surianagara” maka ialah Surianagara IV.
Sebelum menjadi bupati Limbangan, Tumenggung Adiwijaya adalah bupati Parakanmuncang, 1806 – 1813. Kemudian karena kabupatian Parakanmuncang dihapuskan maka Tumenggung Adiwijaya adalah mertua Tumenggung Wangsa Kusuma (II), bupati Limbangan terakhir karena kabupatian Limbangan terakhir kareana kabupaten Limbangan dihapuskan. Tumenggung Adiwijaya menikah dengan Nyi Raden Tejamantri, cucu Tumenggung Suriadipraja (II) bupati Limbangan 1753 _ 1763 (Nisa & C. Arief Gumbira, 2015).
Telah diterangkan bahwasanya Adipati Adiwijaya wafat pada bulan Agustus 1831. Beliau diganti oleh puteranya bernama Raden Jayanegara. Ketika ketika itu beliau sedang menjadi patih kabupaten Limbangan – Garut. Setelah menjadi bupati beliau memakai gelar Tumenggung Kusumadinata (1831 – 1833).
Tumenggung Kusumadinata yang saat itu sedang menjabat sebagai bupati kabupaten Garut kemudian diganti oleh mantunya yang bernama Rasen Jayaningrat yang pada saat itu beliau menjabat sebagai patih, kemudian beliau menggantikan mertuanya Tumenggung Kusumadinata menjadi bupati kabupaten Garut, Raden Jayaningrat saat masih kecil baliau bernama Raden Abas, ketika ayahnya wafat, pada saat itu Abas masih berumur 4 tahun. Sebagai balas budi atas kebaikan Adipati Aria Wiratanudatar VI kepada pangeran Surianagara alias pangeran Kornel ketika pangeran Kornel melarikan diri dari sumedang ke Cianjur, karena akan ditangkap atau dibunuh oleh mertua yang khawatir akan dipilih dari kedudukannya sebagai bupati Sumedang, maka Raden Abas dibawa ke Sumedang. Raden Abas dibesarkan oleh Raden Kornel, bahkan setelah dewasa Raden Abas dinikahkan dengan keluarga pangeran kornel yang bernama Nyi Raden Purnama, yaitu puteri Tumenggung Kusumadinata, Bupati Limbangan – Garut. Ketika Raden Jayanagara masih menjabat sebagai patih kabupaten Limbangan – Garut, Raden Abas menjadi wedana Pasangrahan. Dan waktu Raden Jayanagara menjadi bupati Limbangan – Garut, Raden Abas yang memakai nama Raden Jayaningrat, mengganti mertua menjadi patih kabupaten Limbangan – Garut. Kemudian pada waktu itu Raden Jayaningrat menjadi bupati kabupaten Limbangan – Garut dengan gelar Tumenggung Kusumadinata dan kemudian pindah ke Sumedang, maka Raden Jayaningrat diangkat menjadi bupati kabupaten Limbangan – Garut mengganti mertua dengan gelar Adipati Aria Surianatakusumah (1833 – 1871). Adipati Aria Surianatakusumah menikahi puteri Raden Dirapraja turunan Limbangan yang bernama Nyi Raden Mantria, berhilir Sunan Cipancar dan mempunyai Putera sebanyak 13 orang.
1. Raden Jenong, yang nantinya menjadi bupati Garut dengan gelar Adipati Aria Wiratanudatar VIII;
2. Raden Jayadiningrat, Wedana Wanaraja dan kakek penyusun naskah sejarah ini;
3. Nyi Raden Omi, Isteri bupati Lebak;
4. Nyi Raden Raja Puteri;
5. Raden Sulaeman;
6. Nyi Raden Aisah;
7. Nyi Raden Raja Permas;
8. Raden Enoh (Aom Bingoh)
9. Nyi Raden Hadijah (Raja Nagara)
10. Nyi Raden Alkijah (Raja Retna), beliau itu adalah puteri yang menikah dengan Patih Sukabumi, Raden Suria Nata Legawa, Putera Raden H. Muh. Musa, penghulu di Garut yang terkenal di kabupaten Garut. Raden Suria Nata Legawa mempunyai Putera bernama Raden Suria Nata Legawa (I) yang menjadi bupati Garut mengganti Adipati Aria Wiratanudatar VIII pada tahun 1916. Putera lainnya ialah Raden Suria Nata Atmaja (Raden Abas) yang menjadi bupati Cianjur dan Raden Prawirakusumah, Bupati Serang (yang terakhir ini berlainan Ibu).
11. Raden Ahmad Kosasih, Wedana Cidamar;
12. Nyi Raden Fatimah;
13. Raden Mohamad Ali (Nisa & C. Arief Gumbira, 2015)
Sumber : https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jat/article/download/10418/5680






