Rabu, 08 Juli 2026

Sejarah Kota Medan

 


Kota Medan

Kota Medan awalnya merupakan sebuah perkampungan kecil yang terletak di pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Deli dan Sungai Babura. Nama Medan diyakini berasal dari kata Tamil "Maidan" atau "Medan", yang berarti tanah lapang atau dataran.

Masa Awal (Abad ke-16 - 18)

Sekitar abad ke-16, wilayah Medan masih berupa kampung nelayan dan pertanian yang dikuasai oleh Kerajaan Aru (Haru). Setelah kerajaan itu runtuh, muncul Kesultanan Deli, yang dipimpin oleh Tuanku Gocah Pahlawan, seorang bangsawan keturunan India dan Aceh. Beliau mendirikan pusat pemerintahan di daerah Labuhan Deli, yang kini termasuk wilayah Medan bagian utara.

Masa Kesultanan Deli (Abad ke-19)

Pada abad ke-19, di bawah kepemimpinan Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, Kesultanan Deli berkembang pesat. Tahun 1869, Medan resmi dijadikan ibu kota Kesultanan Deli menggantikan Labuhan. Pusat pemerintahan dipindahkan ke Istana Maimun, yang hingga kini menjadi ikon kota.

Masa Penjajahan Belanda

Kehadiran bangsa Belanda membawa perubahan besar. Pada tahun 1863, seorang pengusaha Belanda bernama Jacob Nienhuys membuka perkebunan tembakau Deli, yang terkenal di Eropa karena kualitasnya yang tinggi. Industri ini menarik banyak pekerja dari Jawa, Tionghoa, dan India, sehingga Medan tumbuh menjadi kota multietnis.

Belanda kemudian mengembangkan infrastruktur seperti jalan, rel kereta api, pelabuhan Belawan, dan menjadikan Medan sebagai pusat perdagangan dan administrasi di Sumatera Timur.

Masa Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Medan menjadi salah satu kota penting di Pulau Sumatera. Pada 1947, status Medan ditetapkan sebagai kota besar (stad gemeente). Kemudian, pada 1950, Medan resmi menjadi kota otonom di bawah Pemerintah Republik Indonesia.

Sumber : https://medantourism.medan.go.id/sejarah

Sejarah Kota Banda Aceh

 Banda Aceh sebagai ibukota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam (Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo a, 2006:72-73). Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi. Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

 

Pada masa Sultan Iskandar MudaBanda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

 

Pada masa agresi Belanda yang kedua, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamirkan jatuhnya kesultanan Aceh dan merubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja. Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43

 

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2012 adalah sebesar 248.727 jiwa.

Pemerintahan

 

Kota Banda Aceh terdiri dari 9 Kecamatan, 17 Mukim, 70 Desa dan 20 Kelurahan. Walikota Banda Aceh yang sekarang adalah Mawardi Nurdin.[3] Ia terpilih dalam Pilkada pada 11 Desember 2006, yang berpasangan dengan Illiza Saaduddin Djamal (politisi Partai Persatuan Pembangunan). Sebelumnya, Mawardi yang merupakan Kepala Dinas Perkotaan dan Permukiman Kota Banda Aceh, juga pernah menjabat sebagai Pejabat Sementara (PjS) Walikota Banda Aceh yang dilantik Wakil Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Azwar Abubakar pada 8 Februari 2005. Pelantikan itu sesuai dengan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.21/52/2005 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Walikota Banda Aceh. Mawardi Nurdin menjabat sebagai Walikota Banda Aceh setelah wali kota sebelumnya Syarifudin Latief dipastikan meninggal dunia akibat bencana tsunami. Dalam surat keputusan itu juga disebutkan masa menjabat sebagai PjS Walikota Banda Aceh paling lama enam bulan sejak pelantikan.

Sumber : https://inspektorat.bandaacehkota.go.id/2013/10/28/sejarah-kota-banda-aceh/

Sejarah Sabang

 Sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka, pulah Weh! Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.

Pada abad ke 12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, jauh mengarungi melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Weh, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di pulau Weh dan menamainya Pulau Emas.

Pedagang Arab yang berlayar sampai ke pulau Web menamakannya Shabag yang berarti Gunung meletus. Mungkin dari sinilah kata Sabang berasal, dari Shabag. Dari sumber lain dikatakan bahwa nama pulau Weh berasal dari bahasa Aceh yang berarti terpisah. Pulau ini pernah dipakai oleh Sultan Aceh untuk mengasingkan orang-orang buangan.

Sebelum terusan Suez dibuka tahun 1869, kepulauan Indonesia dicapai melalui Selat Sunda dari arah Benua Afrika, namun setelah terusan Suez dibuka maka jalur ke Indonesia menjadi lebih pendek yaitu melalui Selat Malaka. Karena kealamian pelabuhan dengan perairan yang dalam dan terlindungi alam dengan baik, pemerintah Hindia Belanda pada saat itu memutuskan untuk membuka Sabang sebagai dermaga. Pulau Weh dan kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah pelabuhan terpenting di selat Malaka, jauh lebih penting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura). Dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station yang dioperasikan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881.

Pada tahun 1883, dermaga Sabang dibuka untuk kapal berdermaga oleh Asosiasi Atjeh. Awalnya, pelabuhan tersebut dijadikan pangkalan batubara untuk Angkatan Laut Kerajaan Belanda, tetapi kemudian juga mengikutsertakan kapal pedagang untuk mengirim barang ekspor dari Sumatra bagian utara. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah Vrij Haven dan dikelola oleh Sabang Maatschaappij.

Saat ini setiap tahunnya, 50.000 kapal melewati Selat Malaka sehingga pada tahun 2000, pemerintah Indonesia menyatakan Sabang sebagai Zona Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas untuk mendapatkan keuntungan dengan mendirikan pelabuhan Sabang tersebut sebagai pusat logistik untuk kapal luar negeri yang melewati Malaka. Prasarana untuk dermaga, pelabuhan, gudang dan fasilitas untuk mengisi bahan bakar sedang dikembangkan.

Hal yang paling penting bagi sejarah Weh adalah sejak adanya pelabuhan di Sabang. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun. Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari banyak negara, singgah untuk mengambil batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya. Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Di saat Kapal laut bertenaga diesel digunakan, maka Singapura menjadi lebih dibutuhkan, dan Sabang pun mulai dilupakan.

Pada tahun 1970, pemerintahan Republik Indonesia merencanakan untuk mengembangkan Sabang di berbagai aspek, termasuk perikanan, industri, perdagangan dan lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri akhirnya menjadi pelabuhan bebas dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia. Tetapi akhirnya ditutup pada tahun 1986.

Sejarah Nama Sabang dan Pulau Weh

Berbicara mengenai sejarah, nama Sabang sendiri berasal dari bahasa Arab, Shabag yang artinya gunung meletus. Mengapa gunung meletus? mungkin dahulu kala masih banyak gunung berapi yang masih aktif di Sabang, hal ini masih bisa dilihat di gunung berapi di Jaboi dan Gunung berapi di dalam laut Pria Laot.

Sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka, pulah Weh! Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.

Pada abad ke 12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, jauh mengarungi melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Weh, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di sebuah pulau dan menamainya Pulau Emas, pulau itu yang dikenal orang sekarang dengan nama Pulau Weh.

Sedangkan Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa Aceh, “Weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, karena sesuatu hal akhirnya Pulau Weh, me-weh-kan diri ke posisinya yang sekarang. Makanya pulau ini diberi nama Pulau Weh. Berdasarkann sejarah penuturan dari warga di Gampong Pie Ulee Lheueh, Pulau Weh sebelumnya bersambung dengan Ulee Lheue. Ulee Lheue di Banda Aceh sebenarnya adalah Ulee Lheueh (yang terlepas). Beredar kabar juga Gunung berapi yang meletus dan menyebabkan kawasan ini terpisah. Seperti halnya Pulau Jawa dan Sumatera dulu, yang terpisah akibat Krakatau meletus. Pulau Weh terkenal dengan pulau We tanpa H, ada yang beranggapan kalau pulau weh diberi nama pulau we karena bentuknya seperti huruf W.

sejarah Pulau Weh adalah sejak adanya pelabuhan di Kota Sabang. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik.

Kemudian Belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun. Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari banyak negara, singgah untuk mengambil batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya, hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda.

Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Namun, di saat Kapal laut bertenaga diesel digunakan, maka Singapura menjadi lebih dibutuhkan, dan Sabang pun mulai dilupakan.

Runtutan Sejarah Kota Sabang

Titik nol Indonesia dimulai dari pulau ini. Pulau yang terletak di ujung terluar dan merupakan pintu gerbang wilayah barat negeri ini. Berbagai nama dan julukan telah disebutkan oleh para pelaut untuk pulau kecil yang memiliki keindahan alam hingga ke dasar lautnya ini. Bahkan berbagai penafsiran juga telah diberikan terhadap nama terkininya yang hanya terdiri dari tiga huruf : w-e-h.

Pulau Weh memiliki dua teluk yang dalam dan terlindung, yaitu Sabang dan Balohan, sebagai pelabuhan alam. Juga sumber air bersih dan letak yang strategis. Jadi tak mengherankan bila berbagai peristiwa telah terjadi di pulau ini. Setelah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869, kepulauan Indonesia tidak lagi dicapai dari selatan, yaitu melalui Selat Sunda. Tetapi melalui sepanjang rute yang lebih utara, yaitu Selat Malaka, dan tentu saja melewati pulau Weh. Sayangnya data tertulis hanya merekam angka 1881 sebagai tahun terawal pulau Weh tercatat dalam sejarah tulisan yang otentik.

Tahun 1881 Belanda mendirikan Kolen Station di teluk Sabang yang yang terkenal dengan pelabuhan alamnya. Tahun 1883 Didirikannya Atjeh Associate oleh Factorij van de Nederlandsche Handel Maatschappij (Factory of Netherlands Trading Society) dan De Lange & Co. di Batavia (Jakarta) untuk mengoperasikan pelabuhan dan stasiun batubara di Sabang. Pelabuhan itu dimaksudkan sebagai stasiun batubara untuk Angkatan Laut Belanda, tetapi kemudian juga melayani kapal dagang umum. Tahun 1895 Kolenstation selesai dibangun dan bisa menampung 25.000 ton batubara yang berasal dari tambang batubara Ombilin di Sumatera Barat. Pelabuhan juga menyediakan bahan bakar minyak yang dikirim dari Palembang. Kapal uap dari banyak negara, singgah untuk mengambil bahan bakar batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya. Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura.

Tahun 1896 Sabang dibuka sebagai pelabuhan bebas (vrij haven) untuk perdagangan umum dan sebagai pelabuhan transito barang-barang terutama dari hasil pertanian Deli yang telah menjadi daerah perkebunan tembakau semenjak tahun 1863 dan hasil perkebunan berupa lada, pinang, dan kopra dari Aceh sendiri, sehingga Sabang mulai dikenal oleh lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia.

Tahun 1899 Ernst Heldring mengenali potensi Sabang sebagai pelabuhan internasional dan mengusulkan pengembangan pelabuhan Sabang pada Nederlandsche Handel Maatschappij dan beberapa perusahaan Belanda lainnya melalui bukunya yang berjudul Oost Azie en Indie. Tahun 1899 Balthazar Heldring selaku direktur NHM merubah Atjeh Associate menjadi N.V. Zeehaven en Kolenstation Sabang te Batavia (Sabang Seaport and Coal Station of Batavia) yang kemudian dikenal dengan Sabang Maatschappij dan merehab infrastruktur pelabuhan agar layak menjadi pelabuhan bertaraf internasional. Tahun 1903 CJ Karel Van Aalst sebagai direktur NHM yang baru, mengatur layanan dwi-mingguan antara pelabuhan Sabang dan negeri Belanda, melibatkan Stoomvaart Maatschappij Nederland (Netherlands Steamboat Company) dan Rotterdamsche Lloyd. Selain itu, dia juga mengatur suntikan modal penting bagi Sabang Maatschappij dengan NHM sebagai pemegang saham mayoritas.

Tahun 1910 didirikan stasiun radio pemancar (Radio Zendstation te Sabang) di Ie Meulee (salah satu dari tujuh radio pemancar di Hindia Belanda Timur) untuk kemudahan komunikasi antara Belanda dan wilayah koloninya.

Tahun 1942 Pada PD II, Sabang diduduki oleh Jepang dan dijadikan basis pertahanan wilayah barat. Sabang sebagai pelabuhan bebas ditutup.

Tahun 1945 Sabang mendapat dua kali serangan dari pasukan Sekutu dan menghancurkan sebagian infrastruktur. Kemudian Indonesia Merdeka tetapi Sabang masih menjadi wilayah koloni Belanda.

Tahun 1950 Setelah KMB, Belanda mengembalikan Sabang kepada Indonesia. Upacara penyerahannya berlangsung di gedung Controleur (gedung Dharma Wanita sekarang). Kemudian melalui keputusan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Serikat Nomor 9/MP/50, Sabang menjadi Basis Pertahanan Maritim Republik Indonesia. Sabang Maatschappij dilikuidasi. Prosesnya selesai tahun 1959. Semua aset Pelabuhan Sabang Maatschappij dibeli oleh Pemerintah Indonesia.

Tahun 1963, Tim Peneliti dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh bekerja sama dengan gabungan Pengurus Exsport Indonesia Sumatera melakukan penelitian terhadap kemungkinan Sabang dibuka kembali menjadi pelabuhan bebas, karena letaknya sangat strategis dalam sektor perdagangan antar Negara. Kemudian melalui Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 1963, Sabang ditetapkan sebagai Pelabuhan Bebas (Free Port), dan pelaksanaannya diserahkan kepada Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE).

Tahun 1964 Dibentuklah suatu lembaga Komando Pelaksana Pembangunan Proyek Pelabuhan Bebas Sabang (KP4BS) melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 22 Tahun 1964.

Tahun 1965 Kotapraja Sabang dibentuk dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1965.

Tahun 1970, dikeluarkan UU No. 3 tahun 1970 dan No. 4 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok daerah perdagangan bebas dengan pelabuhan Sabang dan tentang daerah perdagangan bebas dengan pelabuhan bebas untuk masa 30 tahun, dengan fungsi sbb :

1. Mengusahakan persediaan (stockpiling) barang-barang konsumsi dan produksi untuk perdagangan impor, ekspor, re-ekspor maupun industri.

2. Melakukan peningkatan mutu (upgrading), pengolahan (processing), manufacturing, pengepakan (packing), pengepakan ulang (repacking), dan pemberian tanda dagang (marking).

3. Menumbuhkan dan memperkembangkan industri, lalu lintas perdagangan, dan perhubungan.

4. Menyediakan dan memperkembangkan prasarana dan memperlancar fasilitas pelabuhan, memperkembangkan pelabuhan, pelayaran, perdagangan transito, dan lain-lain.

5. Mengusahakan memperkembangkan kepariwisataan dan usaha-usaha ke arah terjelma dan terbinanya shopping centre. -Mengusahakan dan memperkembangkan kegiatan-kegiatan lainnya khususnya dalam sektor perdagangan, maritim, perhubungan, perbankan dan peransuransian.

Tahun 1985 Status Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang ditutup oleh Pemerintah RI melalui Undang-undang No. 10 Tahun 1985, dengan alasan maraknya penyeludupan dan akan dibukanya Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Tahun 1993 Posisi Sabang mulai diperhitungkan kembali dengan dibentuknya Kerjasama Ekonomi Regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).

Tahun 1997 Dilaksanakannya Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diprakarsai BPPT di Pantai Gapang, Sabang, untuk mengkaji kembali pengembangan Sabang.

Tahun 1998 Kota Sabang dan Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang bersama-sama KAPET lainnya diresmikan oleh Presiden BJ Habibie dengan Keppres No. 171 tanggal 26 September 1998.

Tahun 2000 Presiden KH. Abdurrahman Wahid mencanangkan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dan tanggal 22 Januari 2000 diterbitkan Inpres No. 2 Tahun 2000

Tanggal 1 September 2000 diterbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.2 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang.

Tanggal 21 Desember 2000 diterbitkan Undang-undang No. 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang.

Tahun 2002 Aktivitas pelabuhan Sabang mulai berdenyut kembali dengan masuknya barang-barang dari luar negeri ke kawasan Sabang.

Tahun 2004 Aktivitas ini terhenti karena Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer.

Tanggal 26 Desember 2004 Sabang juga mengalami Gempa dan Tsunami. Kemudian Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias menetapkan Sabang sebagai tempat transit udara dan laut untuk bantuan korban tsunami dan pengiriman material konstruksi dan lainnya yang akan dipergunakan di daratan Aceh.

Paskaperjanjian damai antara Pemerintah RI dengan GAM pada 15 Agustus 2005, Sabang kembali berdenyut. Wisatawan asing pun kembali berdatangan menikmati pesona pantai paling barat Indonesia ini.

Dari Berbagai Sumber

Sumber : https://www.sabangkota.go.id/halaman/sejarah-sabang

Selasa, 07 Juli 2026

Wakapolri: 418 Lulusan Sespim Siap Jadi Garda Terdepan Hadapi Tantangan Global dan Era Digital

 


Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa 418 lulusan pendidikan kepemimpinan Polri harus menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas keamanan nasional di tengah dinamika global, percepatan transformasi digital, serta meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan kepolisian.

Pesan tersebut disampaikan Wakapolri saat memimpin Upacara Penutupan Pendidikan Sespimti Polri Dikreg Ke-35, Sespimmen Polri Dikreg Ke-66, Sekolah Pengembangan Profesi Kepolisian (SPPK) Angkatan Ke-3, dan Sespimma Polri Angkatan Ke-75 Tahun Anggaran 2026 di Sespim Lemdiklat Polri, Jumat (3/7).

Sebanyak 418 peserta didik resmi menyelesaikan pendidikan, terdiri atas 57 peserta Sespimti, 201 peserta Sespimmen, 35 peserta SPPK, dan 125 peserta Sespimma. Para lulusan akan kembali ke satuan masing-masing sebagai calon pemimpin yang diharapkan mampu menjawab tantangan tugas yang semakin kompleks dan dinamis.

“Kelulusan ini merupakan awal pengabdian dan tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi pemimpin Polri yang profesional, adaptif, dan berintegritas, serta mampu menjawab tantangan tugas yang semakin kompleks dan dinamis,” ujar Wakapolri.

Pendidikan tahun ini juga memperkuat kolaborasi lintas institusi. Program Sespimti diikuti 47 peserta Polri, delapan peserta TNI, serta dua peserta dari Kejaksaan Agung dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Sementara Sespimmen diikuti peserta Polri, TNI, serta dua peserta mancanegara dari Timor Leste sebagai bagian dari penguatan kerja sama dan pertukaran pengalaman kepemimpinan.

Dalam amanatnya, Wakapolri mengingatkan bahwa situasi global masih dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik, perang, serta persaingan antarnegara yang berdampak pada sektor energi, pangan, logistik, hingga perekonomian dunia. Kondisi tersebut juga memberikan pengaruh terhadap Indonesia sehingga membutuhkan stabilitas keamanan yang kuat sebagai fondasi pembangunan nasional.

Menurut Wakapolri, Polri memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan agar berbagai program pemerintah, mulai dari swasembada pangan dan energi, hilirisasi industri, hingga pertumbuhan ekonomi nasional dapat berjalan dengan baik.

Selain tantangan global, perkembangan teknologi juga mengubah lanskap keamanan. Kejahatan siber, penyebaran hoaks, disinformasi, hingga penyalahgunaan Artificial Intelligence (AI) oleh pelaku kejahatan menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi.

Karena itu, Wakapolri meminta seluruh lulusan meningkatkan kompetensi digital melalui penguasaan AI, analisis data, dan Open Source Intelligence (OSINT) agar mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan berbasis data.

“Pemimpin Polri masa depan harus memiliki kemampuan membaca perubahan zaman, menguasai teknologi, serta mampu mengelola setiap dinamika melalui kepemimpinan yang adaptif, visioner, dan berorientasi pada penyelesaian masalah,” tegasnya.

Wakapolri juga mengingatkan bahwa ancaman terorisme dan ekstremisme masih terus berkembang, khususnya melalui ruang digital yang menyasar generasi muda. Sepanjang 2023 hingga 2026, Polri berhasil melakukan preventive strike terhadap 265 tersangka dari delapan kelompok teroris serta mempertahankan zero terrorist attack selama tiga tahun berturut-turut.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa seluruh jajaran tidak boleh lengah terhadap berkembangnya radikalisme digital maupun fenomena Nihilistic Violent Extremism. Penguatan deteksi dini, kontra narasi, deradikalisasi, serta pengawasan ruang siber harus terus diperkuat bersama seluruh pemangku kepentingan.

Mengutip pesan Presiden Republik Indonesia pada Hari Bhayangkara ke-80, Wakapolri menekankan bahwa kekuatan Polri bertumpu pada kepercayaan masyarakat. Hal tersebut selaras dengan hasil Survei Litbang Kompas yang menunjukkan 82,4 persen masyarakat optimistis kinerja Polri akan semakin baik.

“Rekan-rekan adalah wajah Polri di tengah masyarakat. Setiap tindakan, keputusan, dan sikap saudara akan mencerminkan kehormatan institusi. Pegang teguh integritas, junjung tinggi profesionalisme, serta hadir memberikan pelayanan yang humanis agar Polri semakin dipercaya dan dicintai masyarakat,” pesan Wakapolri.

Pada kesempatan tersebut, Polri juga memberikan penghargaan kepada peserta didik berprestasi. Penghargaan Sanyata Sumanasa Wira Utama diraih Kombes Pol. Yudhis Wibisana, S.I.K., M.H. (Sespimti), Sanyata Sumanasa Wira Utama Madya diraih Kompol Ardyan Yudo Setyantono, S.H., S.I.K. (Sespimmen) dan Kompol Dr. Jonathan Hasudungan, S.H., M.H. (SPPK), sementara AKP Riza Ariwibowo, S.H., M.M. meraih Sanyata Sumanasa Wira Pratama pada kategori Sespimma.

Mengakhiri amanatnya, Wakapolri mengajak seluruh lulusan menjadikan bekal ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai kepemimpinan yang diperoleh selama pendidikan sebagai modal untuk memperkuat institusi, mempererat sinergi, serta terus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Polri dalam menghadapi tantangan masa depan.

Sumber : https://humas.polri.go.id/news/detail/2446858-wakapolri-418-lulusan-sespim-siap-jadi-garda-terdepan-hadapi-tantangan-global-dan-era-digital

Kamis, 02 Juli 2026

Tempat-Tempat Suci dalam Peradaban Islam

 Agama Islam memiliki sejarah dan warisan budaya yang kaya tersebar di berbagai belahan dunia. Tempat-tempat suci yang berkaitan dengan peradaban Islam tidak hanya menawarkan pengalaman spiritual, tetapi juga arsitektur yang megah dan sejarah yang mendalam. 

Dalam artikel ini, kami akan memberikan 15 rekomendasi wisata religi dunia yang harus dikunjungi oleh umat Muslim. Setiap tempat memiliki sejarah dan pengaruh besar dalam perkembangan agama Islam. Alasan mengunjungi tempat-tempat ini bukan hanya untuk memperdalam iman, tetapi juga untuk menghargai kekayaan warisan peradaban Islam.

1. Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi

Adab Haji dan Umroh agar Mabrur

Yang pertama sudah pasti Majidil Haram. Masjidil Haram merupakan pusat spiritual umat Muslim di seluruh dunia. Masjid ini menampung Ka’bah, kiblat umat Muslim, dan merupakan tempat ibadah haji dan umrah. Mengunjungi Masjidil Haram adalah impian setiap Muslim karena ini adalah tempat suci utama dalam Islam. Pengalaman spiritual yang luar biasa bisa dirasakan saat melakukan tawaf di sekitar Ka’bah dan berdoa di masjid ini.

2. Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi

Rekomendasi Wisata Religi Dunia

Salah satu Masjid yang sangat mulia. Masjid Nabawi adalah masjid suci kedua setelah Masjidil Haram. Masjid ini memiliki makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar. Mengunjungi Masjid Nabawi adalah pengalaman yang mendalam bagi umat Muslim karena dapat berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Selain itu, arsitektur masjid ini juga sangat indah, dengan pilar-pilar dan kubah-kubah yang elegan.

3. Masjid Al-Aqsa, Yerusalem

Masjidil Aqsha - Cahaya Raudhah

Walaupun masih banyak sengketa, Masjid Al-Aqsa tetap menjadi salah satu destinasi religi utama bagi umat Muslim. Masjid Al-Aqsa adalah masjid suci ketiga dalam agama Islam. Terletak di Yerusalem, masjid ini merupakan lokasi peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yerusalem. Selain itu, masjid ini juga merupakan kiblat pertama umat islam sebelum Ka’bah. Mengunjungi Masjid Al-Aqsa adalah kesempatan untuk merasakan kedekatan dengan sejarah Islam dan berdoa di tempat suci yang sangat dihormati.

4. Masjid Hassan II, Casablanca, Maroko

Masjid Hasan - Wisata Religi Dunia - Cahaya Raudhah

Di Maroko ada satu destinasi istimewa yang tidak boleh terlewat jika ingin wisata religi. Masjid Hassan II adalah masjid terbesar di Afrika dan terkenal dengan arsitektur yang luar biasa. Terletak di tepi laut, masjid ini memiliki menara setinggi 210 meter dan dekorasi indah yang memukau. Mengunjungi Masjid Hassan II memberikan pengalaman estetika dan spiritual yang mengesankan.

5. Masjid Sultan Ahmed (Masjid Biru), Istanbul, Turki

Masjid biru Turki

Ke Turki tidak lengkap kalau belum berkunjung ke tempat ini. Masjid Sultan Ahmed, dikenal sebagai Masjid Biru karena keramik biru yang menghiasi interiornya, adalah salah satu masjid paling indah di dunia. Masjid ini mencerminkan keindahan arsitektur Ottoman dan menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam. Mengunjungi Masjid Biru adalah kesempatan untuk merenungkan sejarah kekaisaran Ottoman dan peran pentingnya dalam peradaban Islam.

6. Masjid Quba, Madinah, Arab Saudi

Masjid Quba, Madinah, Arab Saudi - Travel Cahaya Raudhah

Sejarah islam tidak akan pernah lepas dari masjid ini. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW saat hijrah dari Mekkah ke Madinah. Masjid ini memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi umat Muslim dan menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam. Mengunjungi Masjid Quba memungkinkan kita untuk merasakan jejak perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam sejarah.

7. Masjid Umayyah, Damaskus, Suriah

Masjid Umayyah - Cahaya Raudhah Tour and Travel

Jika berbicara tentang sejarah islam, kita tidak akan lupa dengan Daulah Umayyah, salah satu peninggalannya adalah Masjid Umayyah. Masjid Umayyah adalah salah satu masjid tertua dan terindah di dunia. Dibangun pada masa Kekhalifahan Umayyah, masjid ini menjadi contoh penting arsitektur Islam klasik. Mengunjungi Masjid Umayyah memberikan kesempatan untuk mengenali sejarah dan perkembangan awal peradaban Islam di wilayah Suriah.

8. Masjid Sheikh Zayed, Abu Dhabi, UEA

Masjid Sheikh Zayed, Abu Dhabi, UEA -Cahaya Raudhah

Selanjutnya adalah Masjid Sheikh Zayed, Masjid Sheikh Zayed adalah masjid terbesar di UEA dan salah satu yang terbesar di dunia. Masjid ini terkenal dengan desain yang indah dan megah, mencerminkan perkembangan Islam kontemporer. Mengunjungi Masjid Sheikh Zayed adalah kesempatan untuk mengagumi arsitektur modern dan berdoa di lingkungan yang penuh kedamaian.

9. Masjid Agung Djenné, Mali

Masjid Agung Djenné

Apakah anda pernah mendengar tentang masjid ini? Masjid Agung Djenné adalah masjid lumpur terbesar di dunia dan merupakan situs warisan dunia UNESCO. Masjid ini memiliki peran penting dalam kehidupan keagamaan dan budaya di Mali. Mengunjungi Masjid Agung Djenné memberikan wawasan tentang bagaimana Islam telah mempengaruhi seni dan budaya Afrika Barat.

10. Masjid Qarawiyyin, Fez, Maroko

Masjid Qarawiyyin, Fez, Maroko

Universitas sekaligus masjid? ya itulah Masjid Qurawiyyin. Masjid Qarawiyyin adalah salah satu universitas tertua di dunia dan juga berfungsi sebagai masjid. Universitas ini telah menjadi pusat studi agama dan pengetahuan Islam sejak abad ke-9. Mengunjungi Masjid Qarawiyyin memberikan kesempatan untuk melihat sejarah pendidikan Islam yang kaya.

11. Masjid Hagia Sophia

Hagia Sophia, atau Aya Sofya dalam bahasa Turki, memiliki sejarah panjang yang melibatkan berbagai peradaban. Awalnya, bangunan ini adalah gereja Kristen Ortodoks yang didirikan pada abad ke-6 oleh Kaisar Bizantium Justinianus I. Ketika Konstantinopel jatuh ke tangan Kekaisaran Ottoman pada tahun 1453, Sultan Mehmed II mengubah Hagia Sophia menjadi masjid. Sebagai masjid, Hagia Sophia menambahkan elemen-elemen arsitektur Islam seperti mihrab, mimbar, kaligrafi Islam, dan empat menara.

Pada tahun 1935, pemerintah Turki mengubah Hagia Sophia menjadi museum, memberikan akses kepada orang-orang dari berbagai latar belakang agama dan budaya untuk mengunjungi dan mengagumi bangunan ini. Pada tahun 2020, Hagia Sophia kembali diubah menjadi masjid, memungkinkan umat Muslim untuk beribadah di dalamnya, tetapi tetap terbuka untuk kunjungan wisata dari berbagai kalangan.

12. Masjid Agung Isfahan, Iran

Masjid Agung Isfahan, Iran

Pernah dengar Nama Masjid ini? Masjid Agung Isfahan adalah contoh arsitektur Persia-Islam yang mengagumkan. Masjid ini memiliki sejarah panjang dan menjadi pusat kehidupan religius dan budaya di Iran. Mengunjungi Masjid Agung Isfahan memberikan wawasan tentang kontribusi besar Persia dalam seni dan arsitektur Islam.

13. Masjid Al-Nasir Muhammad, Kairo, Mesir

Masjid Al-Nasir Muhammad

Masih seputar masjid. Masjid Al-Nasir Muhammad adalah contoh indah arsitektur Mamluk dan salah satu masjid paling terkenal di Kairo. Masjid ini memiliki nilai sejarah yang tinggi dan merupakan bagian penting dari warisan Islam di Mesir. Mengunjungi Masjid Al-Nasir Muhammad adalah pengalaman mengagumkan untuk melihat keindahan seni dan arsitektur Islam klasik.

14. Masjid Badshahi, Lahore, Pakistan

Masjid Badshahi, Lahore, Pakistan

Selanjutnya adalah Masjid Badshashi di Pakistan. Masjid Badshahi adalah masjid terbesar di Pakistan dan salah satu masjid terbesar di dunia. Masjid ini menunjukkan kemegahan arsitektur Mughal dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Mengunjungi Masjid Badshahi memberikan kesempatan untuk merasakan keagungan peradaban Mughal dan kekayaan budaya Islam di Asia Selatan.

15. Masjid Faisal, Islamabad, Pakistan

Masjid Faisal, Islamabad, Pakistan

Destinasi Wisata selanjutnya adalah Masjid Faisal di Pakistan. Masjid Faisal adalah masjid terbesar di Pakistan dan dirancang oleh arsitek terkenal dari Turki. Masjid ini menjadi simbol modernisasi Islam dan menunjukkan hubungan erat antara Pakistan dan negara-negara Muslim lainnya. Mengunjungi Masjid Faisal memberikan pengalaman spiritual dalam lingkungan arsitektur modern yang mengagumkan.

Mengapa Umat Muslim Perlu Mengunjungi Tempat-Tempat Ini?

Mengunjungi tempat-tempat wisata religi dunia yang memiliki hubungan dengan perkembangan peradaban Islam bukan hanya untuk pengalaman spiritual, tetapi juga untuk memperkaya pengetahuan dan pemahaman tentang sejarah, budaya, dan kontribusi besar peradaban Islam. Selain itu, berziarah ke tempat-tempat suci ini juga memberikan kedamaian dan ketenangan bagi jiwa, serta memperkuat iman dan hubungan dengan Allah SWT.

Dengan mengunjungi tempat-tempat ini, umat Muslim dapat menghargai keindahan seni dan arsitektur Islam yang telah berkembang selama berabad-abad. Selain itu, pengalaman ini juga dapat menjadi inspirasi untuk lebih mendalami ajaran Islam dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Demikianlah rekomendasi wisata religi dunia yang perlu Anda kunjungi. Setiap tempat menawarkan pengalaman spiritual yang unik dan mendalam. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang berencana melakukan perjalanan ziarah dan berwisata religi. Selamat menjelajahi tempat-tempat suci ini dan memperkaya pengetahuan serta iman Anda!

Tips Perjalanan Wisata Religi

Untuk memaksimalkan pengalaman perjalanan wisata religi, ada beberapa tips yang bisa Anda pertimbangkan:

Rencanakan Perjalanan dengan Matang: Pastikan Anda mengetahui jadwal dan tata cara ibadah di tempat-tempat suci yang akan Anda kunjungi. Juga, periksa cuaca dan pakaian yang sesuai dengan budaya setempat.

Persiapkan Dokumen Perjalanan: Pastikan paspor, visa, dan dokumen lain yang diperlukan sudah disiapkan. Beberapa negara mungkin memerlukan izin khusus untuk berkunjung ke tempat-tempat suci.

Pelajari Sejarah dan Budaya Setempat: Mengenal latar belakang sejarah dan budaya tempat yang Anda kunjungi dapat meningkatkan apresiasi Anda terhadap warisan Islam di sana.

Hormati Tradisi Lokal: Ketika mengunjungi tempat-tempat suci, pastikan untuk menghormati tradisi dan norma-norma setempat. Pakaian sopan dan sikap yang menghormati sangat penting.

Manfaatkan Kesempatan Beribadah: Gunakan kesempatan berdoa dan beribadah di tempat-tempat suci ini untuk memperdalam iman dan menguatkan hubungan dengan Allah SWT.

Sediakan Waktu untuk Merenung: Berada di tempat-tempat suci dapat memberikan kesempatan untuk merenung, berdoa, dan memperkuat iman. Manfaatkan momen ini untuk refleksi diri.

Dapatkan Bimbingan Lokal: Jika memungkinkan, cari tahu apakah ada pemandu lokal yang dapat memberikan penjelasan mendalam tentang sejarah dan makna tempat yang Anda kunjungi.

Jaga Kesehatan dan Keamanan: Selalu perhatikan kesehatan dan keamanan Anda selama perjalanan. Ikuti protokol kesehatan dan aturan setempat.

Sediakan Dokumentasi Perjalanan: Mencatat pengalaman Anda melalui foto, video, atau jurnal dapat menjadi cara yang baik untuk mengingat perjalanan dan berbagi cerita dengan orang lain.

Jalin Hubungan dengan Sesama Peziarah: Berinteraksi dengan peziarah lain dari berbagai belahan dunia dapat menjadi pengalaman yang memperkaya.

Berhati-hati dengan Penawaran Wisata: Waspadai penawaran wisata yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Pilih agen perjalanan yang terpercaya dan berlisensi.

Nikmati Perjalanan dengan Bijaksana: Ingatlah bahwa tujuan utama dari perjalanan religi adalah memperkuat iman dan hubungan spiritual. Jangan lupa untuk bersyukur atas kesempatan yang diberikan.

Sumber : https://travelcahayaraudhah.com/rekomendasi-wisata-religi-dunia-tempat-tempat-suci-dalam-peradaban-islam/