Kebutuhan terhadap jumlah dokter di Indonesia saat ini membuat empat universitas ternama di Jawa Barat resmi meluncurkan program kolaborasi strategis percepatan pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (Sp1) dan Sub Spesialis (Sp2) pada tahun 2026. Kolaborasi ini merupakan model nasional sinergi antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia tanpa mengorbankan mutu pendidikan dan keselamatan pasien. Model kolaboratif ini dirancang sebagai solusi strategis dengan mengintegrasikan sumber daya lintas lembaga. Skema yang dikembangkan mencakup penyelarasan kurikulum berbasis kompetensi sesuai regulasi nasional, sistem penjaminan mutu terintegrasi, supervisi akademik bersama, dan optimalisasi rumah sakit pendidikan sebagai wahana klinis yang memenuhi standar.
Dilematis saat ini adalah ketika Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter spesialis dan sub spesialis yang signifikan. Data nasional menunjukkan jumlah dokter spesialis baru berjumlah sekitar 47–55 ribu orang dari total dokter yang terdaftar, dengan rasio sekitar 0,17–0,21 dokter spesialis per 1.000 penduduk — jauh di bawah rasio ideal yang diproyeksikan sekitar 0,28 per 1.000 penduduk sesuai target standar pelayanan kesehatan nasional.
Hal ini berarti negara masih kekurangan sekitar sekitar 25.000–30.000 dokter spesialis untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan dasar dan lanjutan secara merata di seluruh wilayah. Sebagai provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia, Jawa Barat turut merasakan dampak dari ketimpangan ini. Di banyak kabupaten/kota, rasio dokter spesialis masih jauh di bawah ideal, sementara kebutuhan layanan rujukan medis meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan kompleksitas kasus kesehatan. Percepatan pembukaan program studi ini merupakan bagian dari transformasi tata kelola pendidikan dokter spesialis dan sub spesialis secara sistemik dengan tetap menjaga mutu pendidikan yang baik. Setiap langkah akselerasi tetap menjunjung standar akademik, tata kelola yang baik, serta keselamatan pasien sebagai prioritas utama.
Dalam proses percepatan pembukaan prodi spesialis dan subspesialis secara nasional, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran membuka 1 program pendidikan spesialis Sp1 dan 5 program pendidikan dokter spesialis Sp2. Selain itu juga, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran menjalankan peran sebagai Pembina dari pembukaan 27 program studi spesialis Sp1 baru di 13 Fakultas Kedokteran mitra yang tersebar di seluruh Indonesia dan menjajaki kesiapan pembukaan program pendidikan spesialis Sp1 di 37 rumah sakit pendidikan penyelenggara utama yang telah ditunjuk. Kolaborasi di Jawa Barat ini melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Universitas Islam Bandung (Unisba), dan Universitas Kristen Maranatha. Keempat institusi ini sepakat untuk membangun ekosistem pendidikan kedokteran spesialis berbasis kolaborasi, bukan kompetisi. Kolaborasi saat ini menunjukkan bagaimana Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dapat bergerak serentak sebagai mitra sejajar demi memenuhi kebutuhan dokter spesialis di Indonesia.
Model kolaborasi ini tidak bersifat sentralistik, melainkan memperkuat institusi mitra satu sama lain agar memiliki kapasitas akademik dan tata kelola yang setara. Peluncuran program ini di berbagai tempat diharapkan menjadi referensi bagi wilayah lain dalam mengembangkan pendidikan dokter spesialis dan sub spesialis secara terukur, akuntabel, dan berbasis kebutuhan daerah. Saat ini keempat universitas di Jawa Barat dan berbagai universitas lain di Indonesia telah menegaskan komitmen jangka panjangnya bersama pemerintah daerah untuk menjaga harmonisasi kurikulum, pemetaan kebutuhan spesialis prioritas serta penguatan tata kelola pendidikan dan layanan kesehatan. Dengan semangat kebersamaan dalam satu komitmen kepemimpinan daerah juga mendukung agenda strategis nasional penguatan sumber daya manusia kesehatan. Langkah kolektif ini tidak hanya bertujuan menambah jumlah dokter spesialis dan sub-spesialis, tetapi juga memastikan kehadiran tenaga medis yang kompeten, berintegritas, dan siap melayani masyarakat secara merata di seluruh Indonesia.***
Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/pr-0110016992/jumlah-dokter-masih-minim-4-kampus-di-bandung-kolaborasi-buka-prodi-dokter-spesialis-dan-sub-spesialis?page=2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar