Lemon sering digunakan dalam perawatan wajah rumahan, karena dianggap bisa membantu mencerahkan kulit dan menyamarkan bekas jerawat.
Bahan ini juga mudah ditemukan di dapur, sehingga sebagian orang bisa dengan mudah mengoleskan air perasannya langsung ke wajah.
Anggapan bahwa bahan alami lebih aman daripada produk perawatan kulit semakin membuat cara tersebut masih menarik untuk dicoba. Padahal, kulit wajah bisa bereaksi terhadap bahan yang terlalu asam, terlebih jika penggunaannya tidak diatur dan kulit terpapar sinar matahari.
Apa Risiko Mengoleskan Lemon Langsung ke Wajah?
1. Air lemon mentah bisa memicu iritasi
Menyadur OnlyMyHealth, dokter kulit sekaligus konsultan senior dermatologi di CK Birla Hospital, Gurgaon, Dr. Ruben Bhasin Passi, menjelaskan bahwa air lemon mentah tidak sama dengan produk perawatan kulit yang diformulasikan secara khusus.
“Lemon mengandung asam sitrat dan vitamin C, yang keduanya terdengar menjanjikan untuk mencerahkan kulit. Hal ini memunculkan anggapan bahwa menggosokkan air lemon ke kulit dapat mengangkat sel kulit mati dan mencerahkan pigmentasi,” jelas Passi.
Namun, produk perawatan kulit dirancang dengan konsentrasi bahan, tingkat keasaman atau pH, bahan penstabil, serta sistem penghantaran bahan yang terkontrol.
“Air lemon segar tidak memiliki ketepatan seperti itu. Karena itu, hasilnya bisa berupa iritasi yang sulit diprediksi, terutama jika digunakan berulang kali,” ujarnya.
Dengan demikian, penggunaan air lemon langsung pada wajah tidak menjamin kulit menjadi lebih cerah. Alih-alih mendapatkan manfaat yang diharapkan, kulit justru berisiko mengalami iritasi.
2. Paparan sinar matahari bisa memicu reaksi kulit
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah phytophotodermatitis, yakni reaksi peradangan kulit ketika senyawa tertentu dari tumbuhan berinteraksi dengan paparan sinar ultraviolet.
Passi menjelaskan, beberapa buah jeruk mengandung senyawa tumbuhan bernama furanokumarin.
“Ketika zat kimia ini tertinggal di kulit dan area tersebut terpapar sinar ultraviolet, zat tersebut dapat memicu reaksi peradangan yang menyerupai luka bakar. Gejalanya dapat berupa kemerahan, pembengkakan, lepuh, iritasi, dan perubahan warna kulit,” terangnya.
Reaksi tersebut juga tidak selalu muncul seketika setelah kulit terkena sinar matahari.
“Reaksi ini dapat muncul setelah terpapar sinar matahari dan meninggalkan bercak yang lebih gelap, yang bertahan selama berbulan-bulan. Ironisnya, seseorang yang ingin menghilangkan pigmentasi justru bisa mengalami pigmentasi yang lebih parah,” papar Passi.
3. Bukan pilihan tepat untuk mengatasi jerawat
Air lemon mentah juga tidak disarankan untuk mengatasi jerawat. Menurut Passi, bahan tersebut dapat mengiritasi kulit yang rentan berjerawat dan sedang mengalami peradangan. “Iritasi dapat merusak lapisan pelindung kulit dan memicu peradangan.
Bagi orang yang rentan mengalami hiperpigmentasi pascaperadangan, kondisi ini justru dapat membuat bekas jerawat lebih terlihat,” ungkapnya.
Passi menambahkan, produk perawatan kulit yang menimbulkan iritasi juga dapat memicu munculnya bintik hitam. Oleh sebab itu, produk yang lebih lembut disarankan bagi orang yang mengalami hiperpigmentasi.
Orang dengan kulit sensitif, eksim, rosacea, jerawat aktif, lapisan pelindung kulit yang rusak, atau riwayat pigmentasi setelah mengalami iritasi sebaiknya menghindari perawatan asam rumahan.
Passi menyarankan agar air lemon mentah tidak dioleskan langsung ke wajah. Jika kulit terkena lemon atau buah jeruk lainnya, bersihkan area tersebut dengan sabun dan air, terutama sebelum pergi ke luar ruangan.
Untuk membantu mengatasi pigmentasi, produk yang diformulasikan dengan kandungan vitamin C, asam azelat, retinoid, atau bahan lain yang direkomendasikan dokter kulit dapat menjadi pilihan.
Pemilihan produk sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit untuk mengurangi risiko iritasi. Passi juga menegaskan, ibu hamil tidak perlu menghindari lemon sebagai makanan karena risiko tersebut.
Namun, penggunaan lemon langsung pada kulit sebagai perawatan rumahan tidak diperlukan dan tetap dapat menyebabkan iritasi.
Passi juga menegaskan, ibu hamil tidak perlu menghindari lemon sebagai makanan karena risiko tersebut. Namun, penggunaan lemon langsung pada kulit sebagai perawatan rumahan tidak diperlukan dan tetap dapat menyebabkan iritasi.
Sumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2026/10/14/070500120/jangan-asal-oles-lemon-ke-wajah-dokter-ingatkan-risiko-iritasi-kulit?page=2


























