Rabu, 15 Juli 2026

Asal Mula Kemunculan Nama Makassar dan Kota Makassar

 


Banyak orang yang salah kaprah menilai arti nama Makassar berasal dari kata “kasar.” Padahal, sejarah penamaan kota ini sangat unik.

Banyak orang yang salah kaprah menilai arti nama Makassar berasal dari kata “kasar.” Padahal, sejarah penamaan Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan ini, sangat bernuansa islami, yakni ditandai dengan diterimanya agama Islam oleh Raja Gowa dan Tallo sebagai agama resmi kerajaan pada abad ke 16.

Kata Makassar dalam Kitab Negarakretagama.

Sampai abad ke-10, sejarah mengenai negeri ini masih gelap dan sangat kurang tanda-tandanya yang dapat memberikan harapan akan tersingkapnya masa gelap abad-abad lalu itu, untuk diketahui dengan jelas oleh generasi sekarang.

Gowa atau Makassar belum ditemukan jejak-jejaknya pada abad ke-11 dan bahkan sampai abad ke-12. Barulah kemudian sebuah kitab dari peradaban di pulau Jawa, Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada masa Gajah Mada tahun 1364, pada kitab itu ditemukan kata Makassar.

Dalam kitab itu disebutkan daerah taklukan kerajaan Majapahit di Sulawesi di antaranya, Bantayan (Bantaeng), Luwuk (Luwu), Udamakatraya (Kep. Talaud), Makassar, Butun (Buton), Banggawi (Banggai), Kunir (Pulau Kunyit), Selaya (Selayar), Solot (Solor).

Apakah yang dimaksud Makassar dalam Negarakretagama itu adalah sebuah negeri, seperti yang dipahami dengan tempat yang disebut sebagai Kota Makassar sekarang? Tidak ditemukan penjelasan lebih lanjut. Tetapi yang dimaksud Makassar sebagai sebuah negeri adalah jelas seperti halnya Bantayan (Bantaeng), Butun (Buton), Selaya (Selayar), Luwuk (Luwu), dan sebagainya, niscaya letaknya di Sulawesi bagian selatan.

Somba Opu, cikal bakal kemunculan Kota Makassar.

Kemunculan Kota Makassar sebagai kota pelabuhan yang dikenal oleh dunia internasional sangat erat hubungannya dengan tumbuhnya kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa awalnya mulai berdiri sekitar abad ke-14 sebagai kerajaan agraria dengan ibukota berada di Bukit Tamalate yang jauh dari laut.

Pada abad ke-16, pada masa pemerintahan raja Tumapa’risi’ Kallona (1510-1546), raja ini memindahkan Ibukota kerajaan Gowa dari Bukit Tamalate ke pinggir laut yang kemudian dibangun menjadi kota baru yang diberi nama Somba Opu. Kota ini dikelilingi oleh benteng yang terbuat dari tanah liat dan di dalamnya dibangun istana kerajaan Gowa yang baru.

Kemudian pada masa pemerintahan Tunipallangga Ulaweng (1546-1566), benteng kota Somba Opu diganti dengan batu bata dan mulai dipersenjatai dengan meriam-meriam. Sejak saat itu kerajaan Gowa tumbuh pesat sebagai kerajaan maritim dengan beribukota di kota Somba Opu yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal niaga dari berbagai bangsa untuk melakukan perdagangan.

Asal Mula Kemunculan Nama Makassar dan Kota Makassar
Lukisan Kota Somba Opu.

Asal mula kemunculan nama Makassar.

Kemunculan nama Makassar sangat erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di Sulawesi. Nama Makassar muncul karena kepercayaan masyarakat Makassar bahwa di tempat inilah Rasulullah Muhammad saw, pernah menjelmakan diri. Cerita ini sampai sekarang terkenal dan dapat dikatakan telah menjadi suatu cerita rakyat.

Dikatakan bahwa masuknya Islam di Sulawesi di bawah oleh tiga orang datu bersaudara yang berasal dari Koto Tengah, Minangkabau. Mereka adalah Datu Sulaeman yang menyebarkan agama Islam di Luwu, Datu ri Tiro yang menyebarkan agama Islam di Bulukumba, dan Datu Ribandang yang menyebarkan agama Islam di kerajaan Gowa.

Datu Ribandang tiba di kerajaan Gowa dan turun dari perahunya di pantai Tallo pada tahun 1605. Setibanya di pantai, ia melakukan shalat dan membuat orang-orang di kerajaan Gowa yang melihatnya terheran-heran. Setelah penguasa Tallo menerima kabar itu, ia pun berkeinginan di pagi hari buta ke pantai untuk menyaksikannya. Tetapi di tengah perjalanan ke pantai, ia bertemu seorang laki-laki bersorban hijau dan berjubah putih tepat di gerbang istananya.

Orang itu menjabat tangan raja Tallo kemudian menuliskan kalimat syahadat di telapak tangan raja Tallo seraya berkata, “perlihatkan telapak tangan baginda kepada orang pendatang yang ada di pantai itu!” Setelah berkata demikian, orang yang bersorban hijau dan berjubah putih itu tiba-tiba menghilang.

Setelah raja Tallo tiba di pantai tempat Datu Ribandang menambatkan perahunya, maka berbuatlah raja Tallo seperti yang dipesankan oleh orang yang berjubah putih itu. Maka bertanyalah Datu Ribandang setelah membaca apa yang tertulis di tangan raja Tallo, “tahukah baginda siapa gerangan yang menulis di atas telapak tangan baginda?”

Raja Tallo menjawab, “tidak.” Datu Ribandang melanjutkan, “baginda telah menerima Islam langsung dari Rasulullah Muhammad saw sendiri, karena yang menemui baginda dan menulis di atas telapak tangan baginda, niscaya adalah Nabi Muhammad saw. yang telah menjelmakan diri di negeri baginda ini.”

Orang-orang Gowa lalu mengatakan peristiwa itu “Makkasaraki Nabiya” yang artinya Nabi telah menampakkan atau menjelmakan diri. Dari perkataan inilah muncul nama Makassar. Demikian, maka raja Tallo dianggap telah memeluk Islam sebelum diajari ajaran-ajaran tentang Islam oleh Datu Ribandang.

Raja Tallo pun memperkenalkan Datu Ribandang degan pembesar-pembesar kerajaan Gowa, termasuk dengan raja Gowa yang bernama Mangerangi Daeng Manrabbia yang nanti lebih dikenal dengan nama Sultan Alauddin.

Menurut manuskrip kuno Lontara Gowa-Tallo, pada tanggal 9 Jumadil-Awal 1014 H, atau bertepatan pada tanggal 22 September 1605 M, mula-mula raja Tallo yang mengucapkan kalimat Syahadat dan sesudah itu barulah Raja Gowa Sultan Alauddin.

Dua tahun kemudian, seluruh rakyat Gowa dinyatakan memeluk agama Islam, ditandai dengan upacara sembahyang shalat Jumat bersama yang pertama di masjid Tallo pada tanggal 9 November 1607, tanggal inilah yang ditetapkan sebagai hari jadi Kota Makassar di kemudian hari.

Sumber : https://www.terkuno.id/2025/02/asal-mula-kemunculan-nama-makassar-dan.html

Sejarah Kota Gorontalo Berawal Dari Kerajaan

 


Kota Gorontalo lahir pada hari Kamis, 18 Maret 1728 M atau 6 Syakban 1140 Hijriyah. Pada tanggal 16 Februari 2001, kota Gorontalo resmi ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Gorontalo (UU No. 38 Tahun 2000 pasal 7). Sebelum terbentuknya Provinsi Gorontalo, kota Gorontalo merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Utara. Gorontalo adalah kotamadya resmi yang dibentuk pada tanggal 20 Mei 1960 dan kemudian menjadi Kotamadya Gorontalo pada tahun 1965. Gorontalo adalah salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, dan Bone (BPCB Gorontalo, 2014) Provinsi Gorontalo di Indonesia merupakan provinsi ke 32 yang ditetapkan pada bulan Desember tahun 2000. Gorontalo merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang memiliki adat istiadat yang masih dipertahankan sampai sekarang, adapun adat dari Gorontalo yang bertuliskan “Adat bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah”.

Secara historis, Gorontalo telah menjadi pusat penyebaran Islam di Indonesia Timur, sejak zaman pra-kolonial. Provinsi ini juga merupakan pusat dari banyak kerajaan Gorontaloan yang merdeka. Belanda datang pada awal abad ke-17, menaklukkan kerajaan-kerajaan lokal dan akhirnya mencaplok wilayah itu ke Hindia Belanda. Gorontalo sempat diduduki Jepang selama Perang Dunia II, sebelum akhirnya menjadi bagian dari Republik Indonesia yang merdeka. Gorontalo dimasukkan ke dalam provinsi Sulawesi Utara, tetapi setelah jatuhnya Suharto, pemerintah memutuskan untuk membuat provinsi baru, karena perbedaan budaya dan agama dengan provinsi mayoritas kristen di Sulawesi Utara dan juga sebagai bagian dari desentralisasi negara (Purwanto, 2020). Oleh karena itu, provinsi baru dibentuk pada tanggal 5 Desember 2000.

Pada saat ini Gorontalo terkenal dengan banyak sekali wisata serta kebudayaan dan tradisi yang sangat beragam, selain itu Gorontalo juga terkenal dengan salah satu budaya kerajinan yang sudah ada sejak dulu kala. Karawo adalah salah satu kerajinan asli dari Gorontalo. Sulaman karawo tercipta dan berasal dari gagasan pembuatan kerajinan sulam karawo yang terbentur pada pelarian tekanan dan kecemasan berlebihan terhadap penjajah Belanda yang menyebabkan kehidupan penduduk Gorontalo menjadi terisolir (Gema Industri Kecil, 1976).

Sejak itulah kerajinan tersebut dikenal sebagai ciptaan nenek moyang dan kemudian dikonstruksi menjadi simbol budaya dan merupakan kearifan lokal kepada penduduk setempat sampai dengan saat ini yang kemudian menyebar secara keseluruhan wilayah Gorontalo. Karawo sendiri merupakan sebuah budaya hingga ada sampai saat ini dan menjadikan karawo sebagai ciri khas. Kerawang atau karawo bisa didapatkan dari sebuah proses menyulam dengan membuka dan menarik benang dari kain yang telah dipilih kemudian benang tersebut membentuk sebuah ragam hias tertentu.

Sulaman karawo merupakan seni kerajinan tangan yang memiliki keunikan tersendiri, karawo terbentuk dari kata mokarawo yang berarti mengiris dan melubang. Proses pengerjaannya membutuhkan ketelitian, kesabaran, ketelatenan, kejelian, dan kepekaan arena semua proses pengerjaannya tanpa menggunakan teknologi mesin (handmade masterpiece), mulai dari desain, mengiris bahan, mencabut benang, mengerawang, dan menyulam (Rahmatiah, 2015). Karena sulam karawo merupakan jalinan benang yang kait-mengait satu dengan yang lainnya dan membentuk satu motif yang indah, maka sulam karawo dalam kehidupan masyarakat memiliki beberapa dimensi antara lain: agama, sosial, budaya, dan ekonomi. Dimensi tersebut mengkonstruksi tindakan individu dalam memaknai keberadaan sulam karawo. Tradisi mokarawo sebagai kearifan lokal ditransmisikan secara turun temurun melalui proses transfer of knowledge secara alami (outodidak) Sangat disayangkan, apabila tradisi yang ada sejak lama tidak dieksplorasi, inovasi, dimodifikasi, dan dielaborasi demi mempertahankan eksistensinya untuk dapat dimanfaatkan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, diperlukan proses transformasi secara menyeluruh (tata nilai, perilaku individu, struktur sosial masyarakat agar tetap survive dan berdaya saing di pasar global. Sulam karawo tidak lagi dicap sebagai karya “usang atau tempo dulu” karena motif desain yang ditampilkan mengikuti perkembangantran mode atau life style berbusana masa kini, namun tetap harus mempertahankan aura sebagai ciri khasnya. Letak “Aura” kerajinan sulam karawo pada teknik pengerjaannya yang khas.

Kerawang atau karawo sendiri merupakan sulaman kain khas daerah yang lahir dari kerajinan dan ketekunan masyarakat Gorontalo sejak abad ke-17 dalam menyulam kain membentuk pola dan motif, yang telah menjadi nilai identitas dan budaya masyarakat Gorontalo. Saat ini sulaman karawo menjadi komoditas unggulan di Provinsi Gorontalo, sehingga berbagai program pengembangan kerajinan sulam karawo yang kini telah memperoleh hak paten dari Pemerintah Indonesia, semakin diberdayakan untuk pengembangan ekonomi kerakyatan sekaligus menjaga dan melestarikan warisan budaya Gorontalo. Sulaman karawo, selain digunakan pada perancangan kain busana pria dan wanita, juga bisa ditemukan dalam sulaman sapu tangan, kipas, kerudung, mukena, taplak meja, tas, dompet, sandal dan lain sebagainya. Dalam pembuatan ragam hias karawo dibutuhkan minimal tiga orang dengan tugas masing-masing, yang mana orang pertama sebagai pembuat ragam hias dengan menggambar pada kertas, kemudian orang selanjutnya sebagai pengurai dan pengiris dikain yang telah ditetapkan untuk pebuatan motif karawo sesuai dengan motif dirancang terlebih dahulu, dan orang terakhir bertugas sebagai yang akan menyulam kain yang kemudian kain tersebut benangnya telah diurai.

Motif serta benang menjadi aspek dalam melakukan pengembangan dalam pembuatan sulaman karawo, hal ini dalam beberapa tahun kebelakang terlihat bahwa pengrajin karawo dalam pembuatan sulaman karawo bertujuan untuk memperindah sulaman yang tidak berakhir hanya pada penyusunan pola serta motif yang selalu berulang atau repitisi pada motif tertentu. Selain itu karawo sendiri adalah sebuah karya yang telah menyimpan banyak sejarah dalam hal perkembangan pada kehidupan sosial bermasyarakat di Gorontalo dan para leluhur di Gorontalo sendiri telah membangun karawo sebagai warisan budaya yang kemudian di terapkan pada setiap produk karawo yang mana di setiap karawo tersimpan makna serta filosofi budaya yang terkandung dari motif karawo yang mana semakin terabaikan oleh masyarakat Gorontalo itu sendiri. 

Karawo sendiri sudah banyak diketahui oleh masyarakat luas di Gorontalo, dengan mengajukan beberapa kusioner masyarakat paham dan mengetahui karawo di Gorontalo, karawo sendiri juga sudah mempunyai banyak ragam motif karawo dan seiring berjalannya waktu motif karawo semakin berkembang dan semakin bervariatif. akan tetapi masyarakat luas masih kurang perhatian terhadap karawo itu sendiri, padahal karawo sudah mempunyai banyak motif karawo yang bisa mereka aplikasikan ke kegiatan sehari-hari.

Sumber : https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/5240/7/UNIKOM_Wira%20Pratama%20Rumambie_11.%20Bab%20I.pdf 

Selasa, 14 Juli 2026

Pemerintah Kota Manado

 


Kota Manado adalah ibu kota dari provinsi Sulawesi Utara. Kota Manado seringkali disebut sebagai Menado. Manado terletak di Teluk Manado, dan dikelilingi oleh daerah pegunungan.  Jumlah penduduk di Manado diperkirakan (berdasarkan Januari 2014) adalah 430.790. Kota Manado didiami oleh beberapa etnis besar dari Sulawesi Utara diantaranya Minahasa, Bolaang Mongondow dan Sangihe-Talaud dan berbagai golongan agama dengan mayoritas penduduk Kota Manado beragama Kristen. Meskipun Kota Manado didiami oleh berbagai etnis dan berbagai golongan agama namun masyarakat Kota Manado selalu hidup rukun dan damai. “Slogan Torang Samua Basudara” seolah semakin memperkuat kerukunan hidup masyarakat di Kota Manado. Tak heran jika beberapa tokoh bangsa mengatakan bahwa Manado merupakan miniatur Indonesia.

   *Pemerintahan Kota Manado Dipimpin oleh :

  • Walikota          : S. Vicky Lumentut
  • Wakil Walikota : Mor D. Bastiaan

 

   *Sejara Singkat

  • Kota Manado menurut tutur legenda yang diceritakan berasal dari bahasa Etnik Toutemboan Minahasa yaitu “Manarow” yang artinya “Pergi ke Negeri Jauh”. Dalam versi Bahasa Sangir Tua disebut Mararau; Marau yang artinya Jauh. Nama lain yang lebih tua untuk Kota Manado adalah “Wenang/Benang”.. Wenang atau Benangitu sendiri adalah Pohon yang banyak tumbuh di pesisir Manado atau biasa disebut Pohon Bahu, Wenang atau Benang itu sendiri dalam versi Bahasa Sangir Tua adalah “Gahenang/Mahenang”, artinya api yang menyala/ bercahaya/ bersinar(suluh, obor, api unggun). Dan Kata “Manarow” itu sendiri merujuk pada sebuah Pulau yaitu Pulau Manado Tua.. dimana penghuni Pulau Manado Tua ini adalah Orang-orang dari Etnis Sangir Tua yaitu Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu. Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623, merupakan momentum yang mengemas tiga peristiwa bersejarah sekaligus.
  • Wilayah kota Manado terdiri dari wilayah daratan dan wilayah kepulauan dengan luas keseluruhan 15.726 ha. Wilayah kepulauan meliputi pulau Bunaken, pulau Manado Tua dan pulau Siladen. Secara Administratif Kota Manado terbagi atas sebelas wilayah kecamatan dan delapan puluh tujuh kelurahan sebagai hasil pemekaran yang dilakukan sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tanggal 27 September Tahun 2000 tentang Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan di Kota Manado dan Peraturan Daerah Nomor 5 tanggal 27 September Tahun 2000 tentang Pemekaran Kecamatan dan Kelurahan. Luas wilayah terbesar adalah Kecamatan Mapanget dengan luas 6168,3 Ha dan terkecil adalah Kecamatan Sario dengan luas 183,70 Ha.

 

   *Geografis

Kota Manado terletak di ujung utara Pulau Sulawesi dan merupakan kota terbesar di belahan Sulawesi Utara sekaligus sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Utara. Secara geografis terletak di antara 10 25′ 88″ – 10 39′ 50″ LU dan 1240 47′ 00″ – 1240 56′ 00″ BT.

Secara administratif batas-batasnya sebagai berikut:

·         UtaraKabupaten Minahasa Utara dan Selat Mantehage
·         SelatanKabupaten Minahasa
·         BaratTeluk Manado
·         TimurKabupaten Minahasa

   *Agama & Bahasa

-Agama yang dianut adalah Kristen Protestan, Islam, Katolik, Hindu, Buddha dan agama Konghucu. Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk yang beragama Kristen 62,10 persen, Katolik 5,02 persen, sedangkan Muslim 31,30 persen dan sisanya beragama lain. Kota Manado dapat dikatakan relatif aman. Hal itu tercermin dari semboyan masyarakat Manado yaitu Torang samua basudara yang artinya “Kita semua bersaudara”.

-Bahasa digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Manado dan wilayah sekitarnya disebut bahasa Manado (Bahasa Manado). Bahasa Manado menyerupai bahasa Indonesia tetapi dengan logat yang khas. Beberapa kata dalam dialek Manado berasal dari bahasa Belanda, bahasa Portugis dan bahasa asing lainnya.

   *Kawanua

Masyarakat Manado juga disebut dengan istilah “warga Kawanua”. Walaupun secara khusus Kawanua diartikan kepada suku Minahasa, tetapi secara umum penduduk Manado dapat disebut juga sebagai warga Kawanua. Dalam bahasa daerah Minahasa, “Kawanua” sering diartikan sebagai penduduk negeri atau “wanua-wanua” yang bersatu atau “Mina-Esa” (Orang Minahasa). Kata “Kawanua” diyakini berasal dari kata “Wanua”. Kata “Wanua” dalam bahasa Melayu Tua (Proto Melayu), diartikan sebagai wilayah permukiman. Sementara dalam bahasa Minahasa, kata “Wanua” diartikan sebagai negeri atau desa.

   *Budaya

Musik tradisional dari Kota Manado dan sekitarnya dikenal dengan nama musik Kolintang. Alat musik Kolintang dibuat dari sejumlah kayu yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan nada-nada yang berbeda. Biasanya untuk memainkan sebuah lagu dibutuhkan sejumlah alat musik kolintang untuk menghasilkan kombinasi suara yang bagus.

*Ekonomi

Sebagian besar penduduk Kota Manado bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), guru atau pegawai swasta (41,44%), sebagai wiraswasta (20,57%), pedagang (12,85%), petani/peternak/nelayan (9,17%), buruh (8,96%). Sisanya bergerak di sektor jasa dan lain-lain (7%).Angka Produk Domestik Regional Bruto (PRDB) Kota Manado tahun 2000 adalah Rp. 2,14 trilyun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan angka tahun 1994 yang berjumlah Rp. 703,87 miliar. Sejak munculnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997, perekonomian kota Manado sangat terpengaruh. Perekonomian kota Manado khususnya terdiri dari sektor perdagangan, perhotelan dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa. Pada tahun 1996 peran ketiga sektor utama ini dalam pembentukan PDRB adalah sejumlah 68,74%.

   *Wisata Kota Manado

  • Taman Laut Bunaken
  • Pantai Malalayang
  • Pulau Siladen
  • Air Terjun Kima Atas
Sumber : https://sulut.bpk.go.id/pemerintah-kota-manado/

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional di Bidang Manajemen ASN Periode Juli 2026



Bersama ini kami sampaikan hasil seleksi administrasi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional di Bidang Manajemen ASN periode Juli 2026 berdasarkan verifikasi dan validasi dokumen yang dipersyaratkan sebagaimana terlampir.
Pelaksanaan Uji Kompetensi Jabatan Fungsional di Bidang Manajemen ASN akan diselenggarakan pada tanggal 7, 8, 9 dan 13 s.d. 16 Juli 2026 dengan rincian sebagaimana terlampir pada dokumen berikut:

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Uji Kompetensi Jabatan Fungsional di Bidang Manajemen AS

Sumbet : https://www.bkn.go.id/pengumuman-hasil-seleksi-administrasi-uji-kompetensi-jabatan-fungsional-di-bidang-manajemen-asn-periode-juli-2026/ 

Prof. Zudan: BKN & Microsoft Indonesia Bekerja Sama Latih 145 ribu ASN Hadapi Era AI

 


Badan Kepegawaian Negara (BKN) akan membekali 145 ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menghadapi era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melalui program pelatihan dan penguatan kapasitas kepemimpinan digital, hasil kolaborasi dan kerja sama dengan Microsoft Indonesia. Kepala BKN, Prof. Zudan, mengungkapkan transformasi birokrasi di era kecerdasan buatan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus segera direspons oleh seluruh ASN. Perkembangan AI akan mengubah cara kerja pemerintahan secara fundamental, terutama karena banyak pekerjaan administratif dan rutin yang kini dapat dilakukan secara otomatis oleh teknologi. Menurutnya, investasi terbesar yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah membangun ASN yang siap menghadapi era AI, sehingga mampu menjadi motor penggerak birokrasi yang profesional, inovatif, dan berbasis data.

Prof. Zudan mengarahkan agar ASN masa depan memiliki karakter agile, digital, dan AI-ready. ASN dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi digital, tetapi juga memiliki pola pikir adaptif, kemauan belajar yang tinggi, serta kesiapan menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat. Kompetensi masa depan ASN tidak lagi cukup bertumpu pada pemahaman regulasi dan administrasi, melainkan harus diperkuat dengan literasi data, literasi AI, kemampuan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah kompleks, dan growth mindset agar mampu bersaing, serta memberikan layanan terbaik kepada masyarakat. “ASN harus mampu bertransformasi dari pelaksana pekerjaan administratif menjadi aparatur yang memiliki kemampuan analitis, strategis, dan mampu menghasilkan solusi bagi berbagai persoalan publik,” tegasnya.

Terkait pentingnya pemanfaatan AI sebagai alat untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik, Prof. Zudan menekankan agar teknologi digunakan untuk mempercepat proses kerja, meningkatkan akurasi pengambilan keputusan, serta menciptakan layanan yang lebih cepat, mudah, dan responsif. BKN sendiri telah mengimplementasikan berbagai inovasi berbasis AI, seperti Chatbot AI BKN (Melinda), AI Proctoring pada sistem CAT, klasifikasi dokumen kepegawaian secara otomatis, serta otomasi verifikasi dan validasi dokumen. Berbagai inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya modernisasi manajemen ASN dan dukungan terhadap implementasi 12 Kebijakan Pro-Karier ASN. “Pada akhirnya, tujuan seluruh transformasi ini adalah menghadirkan birokrasi yang semakin modern, efektif, dan berkelas dunia, sekaligus mewujudkan layanan publik yang mampu memudahkan, melindungi, dan membahagiakan masyarakat, serta ASN di era digital,” jelasnya.

Namun keberhasilan transformasi digital menurutnya tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi terutama oleh kualitas sumber daya manusia. Karena itu, BKN terus mendorong penguatan kompetensi ASN melalui berbagai program pengembangan kapasitas, termasuk kolaborasi dengan Microsoft Indonesia dan Binar Academy dalam pelatihan AI bagi ASN. Program ini merupakan bagian dari upaya BKN sebagai instansi pembina manajemen ASN untuk mendukung percepatan transformasi digital pemerintahan. Kolaborasi strategis BKN dan Microsoft Indonesia sendiri telah ditandai melalui penandatanganan kerja sama pada 28 April 2026 lalu.

Pelatihan yang berlangsung mulai Mei hingga Juli 2026 ini disambut antusias oleh para ASN, dimana terhitung telah diikuti 12.551 peserta, dan akan menyasar hingga 145 ribu target ASN. Untuk pelatihannya terdiri atas enam angkatan AI for Public Impact dan satu angkatan AI Policy Lab for Leaders. Selain memberikan pemahaman dasar mengenai AI, pelatihan ini juga memperkenalkan berbagai praktik penerapan AI dalam penyusunan kebijakan, pengolahan informasi, peningkatan produktivitas kerja, hingga pengembangan inovasi layanan publik. Sementara itu, peserta AI Policy Lab for Leaders memperoleh pembelajaran yang berfokus pada tata kelola, kebijakan, dan arah strategis implementasi AI di lingkungan pemerintahan.

Format pdf siaran pers ini dapat diunduh pada tautan berikut.

Sumber : https://www.bkn.go.id/prof-zudan-bkn-microsoft-indonesia-bekerja-sama-latih-145-ribu-asn-hadapi-era-ai/

Skema Beasiswa (Jenis dan karakteristik beasiswa LPDP berdasarkan jenjang, tujuan studi, dan fokus program) Tahun 2026

Skema Beasiswa

Perbaikan mendasar atas Skema Beasiswa LPDP 2026 dilakukan melalui pengintegrasian seluruh jenjang program beasiswa ke dalam satu platform end-to-end, mulai dari program non-degree, vokasi, sarjana, magister, doktor, hingga pendidikan dokter spesialis. Integrasi tersebut tidak hanya menyatukan alur pendaftaran, seleksi, pembiayaan, pemantauan, hingga pengelolaan alumni, tetapi juga menyatukan berbagai program beasiswa lintas Kementerian dan Lembaga yang meliputi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi; Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah; Kementerian Agama; Kementerian Kebudayaan; serta LPDP dalam satu ekosistem talenta nasional. Dengan pendekatan ini, Beasiswa LPDP 2026 bertransformasi dari skema yang sebelumnya terfragmentasi baik dari segi program maupun pengelola beasiswa menjadi sistem terpadu yang lebih terintegrasi dan berorientasi dampak.


Program Beasiswa LPDP 2026 difokuskan untuk mendukung pengembangan industri strategis sebagai mesin pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Maju 2045. Saat ini, ketersediaan sumber daya manusia di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) masih terbatas, baik dari sisi jumlah maupun kualitas, sehingga berpotensi menghambat akselerasi industrialisasi dan peningkatan produktivitas. Bonus demografi Indonesia yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2038 akan optimal dampaknya apabila mampu dikonversi menjadi peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui penyediaan SDM unggul yang relevan dengan kebutuhan industri strategis dan riset. Dalam kerangka tersebut, pengembangan industri melalui peningkatan kualitas talenta dilaksanakan melalui ekosistem terpadu yang melibatkan sinergi antara bidang STEM dan non-STEM, di mana keduanya saling melengkapi untuk membentuk struktur ekonomi yang harmonis, inovatif, dan berdaya saing.

Buku Panduan Program Beasiswa dan User Manual Penggunaan Aplikasi

Halaman ini memuat kumpulan booklet resmi program Beasiswa LPDP yang dapat digunakan sebagai referensi awal bagi calon pendaftar. Setiap booklet berisi informasi lengkap mengenai tujuan program, sasaran pendaftar, cakupan pendanaan, serta ketentuan umum masing-masing skema beasiswa.





Sumber : https://beasiswalpdp-terintegrasi.kemenkeu.go.id/

Senin, 13 Juli 2026

Usulan Pahlawan Sutan Takdir Alisjahbana, Gus Ipul: Pejuang Bahasa Indonesia

 


Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menghadiri acara seminar pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai Pahlawan Nasional di Auditorium Universitas Nasional, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

Sutan Takdir Alisjahbana dikenal sebagai tokoh yang berperan besar dalam modernisasi bahasa Indonesia hingga menjadi bahasa persatuan nasional.

Rekam jejaknya meliputi penulisan tata bahasa Indonesia pertama pada era pendudukan Jepang, pelopor angkatan Pujangga Baru melalui karya sastra dan polemik kebudayaan, serta upaya mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK).

Dalam sambutannya, Gus Ipul menyampaikan salah satu warisan terbesar Sutan Takdir Alisjahbana adalah perjuangannya mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern. Bahasa yang saat ini digunakan dimanapun, dan semua dirumuskan melalui perjuangan panjang, salah satunya melalui tenaga dan buah pikir Sutan Takdir Alisjahbana.

"Ada yang berjuang merebut kemerdekaan, ada pula yang mengisi kemerdekaan dengan bahasa pendidikan dan kebudayaan. Keduanya sama-sama penting, sebab setelah sebuah bangsa merdeka, masih ada pertanyaan besar. Bangsa seperti apa yang ingin kita bangun, dan bagaimana rakyat dari berbagai daerah dapat hidup sebagai satu bangsa," katanya.

Lebih jauh, Gus Ipul menjelaskan Sutan Takdir Alisjahbana dikenal sebagai sastrawan, ahli bahasa, pemikir kebudayaan, pendidik, dan pendiri lembaga pendidikan. Namun ada hal yang lebih besar ketika perjalan hidupnya ditelaah sebagai satu kesatuan.

"Ia ikut membangun cara bangsa Indonesia berpikir. Ia tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia untuk menulis, tetapi ikut mempersiapkannya agar mampu menjadi bahasa persatuan, bahasa pendidikan, dan bahasa ilmu pengetahuan," jelasnya.

Seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (Unas) ini dihadiri oleh kurang lebih 350 peserta. Seminar Nasional menjadi salah satu tahapan dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional. 

Gus Ipul berharap proses pengusulan bisa berjalan lancar tahun ini, dan Sutan Takdir Alisjahbana menjadi salah satu Pahlawan Nasional yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

"Ini ada hal yang baru yang memang ini dibuka kesempatan oleh Bapak Presiden Prabowo untuk kita bisa mengusulkan tokoh-tokoh yang mungkin selama ini belum menjadi perhatian bersama kita, seperti STA, Sutan Takdir Alisjahbana," kata Gus Ipul ditemui usai acara.

Sementara itu, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional Nana Yuliana selaku Ketua Panitia Seminar menyampaikan pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana masih sangat relevan untuk melihat kembali arah budaya Indonesia ditengah persaingan global menuju Indonesia Emas 2045, yang menekankan pembangunan manusia yang berkarakter.

"Dengan jasa dan pemikiran beliau yang begitu banyak, Universitas Nasional dengan dukungan Bapak/Ibu semuanya, akan mengajukan STA sebagai calon penerima gelar pahlawan pada tahun 2026 ini," kata Nana.

Sebagai informasi, turut hadir Mantan Menteri Tenaga Kerja 1999-2000 Prof. Bomer Pasaribu, Mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 2014-2016 Prof. Yuddy Chrisnandi, Rektor Universitas Nasional El Amry Bermawi Putera, Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemenbud Restu Gunawan, Keluarga Besar Sutan Takdir Alisjahbana, Para Wakil Rektor Universitas Nasional, Para Pembicara Seminar, serta pejabat terkait lainnya.

Sumber : https://kemensos.go.id/pencarian/Usulan-Pahlawan-Sutan-Takdir-Alisjahbana,-Gus-Ipul:-Pejuang-Bahasa-Indonesia